Postingan

Hujan

Gambar
Oleh : Urwan Urwan

Bumi basah, tanah lembab, dan langit mendung. Melodi yang tangannya mainkan tidak ikut terjerembab ke dalam genangan air. Suaranya mengalun bening menyeruput keindahan seroja. Bintang sore nan merana. Lalu ia berbunyi biola seperti pasir yang dibawa terbang angin. Lalu berhamburan ikut satu per satu ke dalam alunannya. Bertaburan bak bintang malam.

Langit emas hampir tiada sementara beberapa lapis udara di atas kepala mulai gelap. seiring dengan berkumpulnya gemuruh petir dan zona air mata.

Pyar... Petir mengilat dan byurrr. Bumiku berembun hampir banjir.

Tak tik tuk.... Dentang jam dinding membelok ke arah riuhnya tetes-tetes air yang jatuh ke atap seng, dedaunan, dan tanah. Debu-debu yang lembut dibawa ke hilir sebagai persembahan kepada dewa laut.

Sementara aku, hanya bisa memandangi malam yang nyaris tiba.

Yang Kemarin Kudekap

Gambar
Oleh Uwan Urwan

Malam ini kutinggalkan langit
Debur berombak kenangan berangin bisik bersenang-senang
Sekeliling tampak penuh bintang warna warni
Tetapi tidak jiwaku
Terasa garam gulita penuh basah
Entah rasa yang mati atau mati yang bernyawa

Kutepuk tepuk senja yang sudah lama pergi untuk datang kembali
Duduk berdua menikmati linu yang sejak pagi tertawa
Berkisah tentang kamu
Yang kemarin kudekap
Seolah tak ingin lepas
Tapi kini bukan kamu yang ada
Hanya rindu yang setia
Mengelabuhi setiap perjalananku

Daun-daun Itu Membentuk Pucuk

Gambar
Oleh : Uwan Urwan
Daun-daun itu membuka dan kuncup seperti sebuah perjalanan kaki. Perjalanan yang membawa luka dan duka di atas suka dan riang. Udara-udara mulai menusuk ke dalam pori-pori. Membawa butir-butir es sampai warnanya menguning. Kipas angin berputar-putar kelaparan. Dinding-dinding kamar tak pernah berubah warna. Dari balik jendela dedaunan tertiup angin, membawanya tersenyum, tertawa, mengalun.
Daun-daun itu seperti rindu, bersemayam, kemudian elok begitu sebuah pintu terbuka dan terkembang dalam satu waktu. Tebarkan aroma napas dan lirih. Sementara itu langit senja yang terus saja banggakan keelokannya.
Daun-daun itu terus membentuk pucuk, sementara hatiku tersebutkan gelakmu.
#uwanurwan #puisi #daun

Kedatanganmu seperti sebuah buku dalam lembar-lembar kosong

Gambar
by Uwan Urwan

Kemudian aku sadari sesuatu. Kedatanganmu merupa mimpi, karena harap sudah lama kudamba. Merindu entah siapa, genggam entah bagaimana, bersandar entah di mana. Kedatanganmu seperti bayu yang berembus begitu saja tanpa nada petikan tiga kali. Kemudian muncul kuncup hijau, merekah kemudian embun menghilang dalam hari.

Kalau engkau terobsesi, aku hanyalah bagian dari kesederhanaan itu. Mungkin jadi naif karena kucing-kucing berkejaran minta makan spageti dan rujak cingur bumbu keputusasaan. Aku hanya menatap iba. Di sisi lain kipas angin terus saja berputar lebih dari 24 jam perhitungan waktu manusia.

Kedatanganmu kuyakini adalah kunci meski kita tahu yang salah dan yang bersalah itu bisa mutlak atau 50 banding 50. Namun, perputaran itu nyata ada dan kekuatan itu seperti terik mentari, meski tak tersentuh dapat hangat.

Kedatanganmu itu seperti sebuah buku dalam lembar-lembar kosong dan jemariku tuliskan banyak pesan di sana.

Miau

By Uwan UrwanMiau
Siang-siang lapar
Miau
Malam-malam busung lapar
Miau
Miau
Miau miauMiau
Bulu-bulu putih
Rambut!
Dengan belang hitam
Miau miau
Mata-mata biru
Mata-mata bercahaya
Miau miauMiau, katanyaMiau... Miau...
Buang
Buang miau...
Tinggal miauMau-mau miau...
Miau mau-mau
Mau-mau-mau
Miau...Malang, 14 Mei 2007

Kepada Bosan Dan Malas

By Uwan Urwan
Hei kau kutu kudis dan semacamnya Pantatmu kian bergetar Bola kakimu hendak menghantam mataku Hah, mana bisa! Kau itu hanya yang bisa melompat dari atas tebing dan tetap jatuh di atas bebatuan Sekali pun kau tidak dapat melahap mulutku yang koyak Hei kau kutu yang menyala Kuperingatkan ya, kamu bukan berlian lapis legit Yang manis rasa tembolok Berbiji mutiara dan zamrud Hei hei hei, berhenti kau! Jangan melompat lagi. Kucari kau di sela-sela rindu pada B dan petang yang tetap gelap Blusukan ke sana ke mari Menyelusup bagai ular-ular melilit, membelit, dan melidahi pasangan ketiakku Nah, kena kau. Dasar kutu! "Tes" Suara tubuhnya yang kutimpa dengan kuku pecah Semua isi perutmu, uang ratusan rupiah, dan sperma yang bersemayam ikut membludak Haha.... Kucingku berlari. Kini ia terbebas dari hewan keparat itu. Situbonce, 07082015

Kepada Bantal dan Guling Permai

By Uwan Urwan
Aku tidur, denganmu Semalam kau lumuri aku, dengan basah cinta Aku tidur, dengan jempolmu Kuemut pelan-pelan dan tergesa-gesa Aku bangun, dengan tidur Merayap ke dalamm lobang hidungmu yang bau kayu manis Manis, ujung dada. Aku terlelap, dengan benjolan ketiakmu Dicakar-dicakar bayu dan lembing Sintal tubuh dan pantatnya berlabel koran harian abal-abal Aku bermimpi, dengan pelukanmu yang bertabur sperma dan garam-garam lautan Ah, aku kan sudah terlalu sering menikmati kelamnya dunia persinggahan, Yang keluar masuk, masuk keluar, apa enak? Mataku masih terpejam, dengan ubun-ubun rasa bangkai tahi lalat Sepanjang gelap aku bertepuk, hanya sebelah Menginjak-injak kitab tata cara makan kepiting mentah dan tata cara bercinta dengan lelembut Hmm... aku enggan beranjak dari semua perlengkapan kasur Enggan meninggalkan mimpi yang nikmat Enggan bersetubuh lagi dengan matahati terik Bah... 080815