Postingan

Tentang kamu khayalanku

Gambar
Oleh : Uwan Urwan


Dari dulu juga tentang kamu khayalanku. Aku bermimpi terbang tanpa sayap berulang kali. Kadang sulit menyapu udara, tidak sama seperti tiupanmu di leherku waktu itu. Buat raga gelinjang dan berkali-kali tabuh gendang. Tahu tidak apa arti terbang itu? Aku tak tahu, tapi angin-angin selalu buat diriku terbata-bata menghadapi bahasa. Ada kata-kata yang mungkin menetes dan jatuh di atas daun talas saat sang raja cahaya belum muncul dari peraduan, tapi bukan tangis.
Dari balik kegelapan itu, bayangmu jadi hidup. Kemudian kau dekap dengan lembut dadaku hingga aliran darah kian hangat.
Dan kamu tahu, melayang di udara membawaku ke tempat kau berdiri.

Di kamu

Gambar
Oleh Uwan Urwan


Rindu seperti air sungai
Mengalir tanpa penghalang
Dari daerah tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah
Titik terendah itu ada di kamu

Meski perjalanannya sesederhana itu
Ada banyak hambatan, bebatuan cadas, tanah keras, sampai terik berlebih
Kadang ia tak hadir tepat waktu
Menyisakan ruang kosong di antaranya

Namun, jatuhnya akan tetap sama
Di kamu...

31 Januari 2019

Bangsat

Gambar
Oleh Uwan Urwan


Kadang hidup terasa bangsat sekali
"Begini amat ya!"

Di antara tawa-tawa menyeruak,
Babi-babi berbentuk manusia berhamburan
Layaknya kupu-kupu temukan serbuk sari
Kemudian pergi begitu busuk merajut
Pengemis dan pemulung dengan kesasaran penuh,
Punguti sampah itu
Meski beraroma tahi basah
Jadi, yang bedebah itu siapa?
Aku?
Dia?
Kalian?
Mereka?

Kita semua, BANGSAT!

Jakarta, 21 Januari 2019

Hujan

Gambar
Oleh : Urwan Urwan

Bumi basah, tanah lembab, dan langit mendung. Melodi yang tangannya mainkan tidak ikut terjerembab ke dalam genangan air. Suaranya mengalun bening menyeruput keindahan seroja. Bintang sore nan merana. Lalu ia berbunyi biola seperti pasir yang dibawa terbang angin. Lalu berhamburan ikut satu per satu ke dalam alunannya. Bertaburan bak bintang malam.

Langit emas hampir tiada sementara beberapa lapis udara di atas kepala mulai gelap. seiring dengan berkumpulnya gemuruh petir dan zona air mata.

Pyar... Petir mengilat dan byurrr. Bumiku berembun hampir banjir.

Tak tik tuk.... Dentang jam dinding membelok ke arah riuhnya tetes-tetes air yang jatuh ke atap seng, dedaunan, dan tanah. Debu-debu yang lembut dibawa ke hilir sebagai persembahan kepada dewa laut.

Sementara aku, hanya bisa memandangi malam yang nyaris tiba.

Yang Kemarin Kudekap

Gambar
Oleh Uwan Urwan

Malam ini kutinggalkan langit
Debur berombak kenangan berangin bisik bersenang-senang
Sekeliling tampak penuh bintang warna warni
Tetapi tidak jiwaku
Terasa garam gulita penuh basah
Entah rasa yang mati atau mati yang bernyawa

Kutepuk tepuk senja yang sudah lama pergi untuk datang kembali
Duduk berdua menikmati linu yang sejak pagi tertawa
Berkisah tentang kamu
Yang kemarin kudekap
Seolah tak ingin lepas
Tapi kini bukan kamu yang ada
Hanya rindu yang setia
Mengelabuhi setiap perjalananku

Daun-daun Itu Membentuk Pucuk

Gambar
Oleh : Uwan Urwan
Daun-daun itu membuka dan kuncup seperti sebuah perjalanan kaki. Perjalanan yang membawa luka dan duka di atas suka dan riang. Udara-udara mulai menusuk ke dalam pori-pori. Membawa butir-butir es sampai warnanya menguning. Kipas angin berputar-putar kelaparan. Dinding-dinding kamar tak pernah berubah warna. Dari balik jendela dedaunan tertiup angin, membawanya tersenyum, tertawa, mengalun.
Daun-daun itu seperti rindu, bersemayam, kemudian elok begitu sebuah pintu terbuka dan terkembang dalam satu waktu. Tebarkan aroma napas dan lirih. Sementara itu langit senja yang terus saja banggakan keelokannya.
Daun-daun itu terus membentuk pucuk, sementara hatiku tersebutkan gelakmu.
#uwanurwan #puisi #daun

Kedatanganmu seperti sebuah buku dalam lembar-lembar kosong

Gambar
by Uwan Urwan

Kemudian aku sadari sesuatu. Kedatanganmu merupa mimpi, karena harap sudah lama kudamba. Merindu entah siapa, genggam entah bagaimana, bersandar entah di mana. Kedatanganmu seperti bayu yang berembus begitu saja tanpa nada petikan tiga kali. Kemudian muncul kuncup hijau, merekah kemudian embun menghilang dalam hari.

Kalau engkau terobsesi, aku hanyalah bagian dari kesederhanaan itu. Mungkin jadi naif karena kucing-kucing berkejaran minta makan spageti dan rujak cingur bumbu keputusasaan. Aku hanya menatap iba. Di sisi lain kipas angin terus saja berputar lebih dari 24 jam perhitungan waktu manusia.

Kedatanganmu kuyakini adalah kunci meski kita tahu yang salah dan yang bersalah itu bisa mutlak atau 50 banding 50. Namun, perputaran itu nyata ada dan kekuatan itu seperti terik mentari, meski tak tersentuh dapat hangat.

Kedatanganmu itu seperti sebuah buku dalam lembar-lembar kosong dan jemariku tuliskan banyak pesan di sana.