Postingan

Lirik Lagu Done Kun Saraswati

Verse 1 take me with you or let me be with you but if we knew, i’m trynna forget you what did i do? i’m feeling so pale blue this felt so true, but how about you? Prechorus The sky starts raining, but my heart keeps tracing the storms are raging, but my heart keeps falling Reff **i’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue i’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no i love you Verse 2 im broken in two, im drowning in deep blue My feelings for you, has drowned with me too Prechorus The sky starts raining, but my heart keeps tracing the storms are raging, but my heart keeps falling Reff **i’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue i’m clinging on to you, just tell me it’s not true and there is no i love you Bridge  - what i’m gonna do, tell me what i’m gonna do 2x Reff Modulation **i’m clinging on to you, just tell me it’s not true that violets are not blue i’m cling

Tentang kamu khayalanku

Gambar
Oleh : Uwan Urwan Dari dulu juga tentang kamu khayalanku. Aku bermimpi terbang tanpa sayap berulang kali. Kadang sulit menyapu udara, tidak sama seperti tiupanmu di leherku waktu itu. Buat raga gelinjang dan berkali-kali tabuh gendang. Tahu tidak apa arti terbang itu? Aku tak tahu, tapi angin-angin selalu buat diriku terbata-bata menghadapi bahasa. Ada kata-kata yang mungkin menetes dan jatuh di atas daun talas saat sang raja cahaya belum muncul dari peraduan, tapi bukan tangis. Dari balik kegelapan itu, bayangmu jadi hidup. Kemudian kau dekap dengan lembut dadaku hingga aliran darah kian hangat. Dan kamu tahu, melayang di udara membawaku ke tempat kau berdiri.

Di kamu

Gambar
Oleh Uwan Urwan Rindu seperti air sungai Mengalir tanpa penghalang Dari daerah tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah Titik terendah itu ada di kamu Meski perjalanannya sesederhana itu Ada banyak hambatan, bebatuan cadas, tanah keras, sampai terik berlebih Kadang ia tak hadir tepat waktu Menyisakan ruang kosong di antaranya Namun, jatuhnya akan tetap sama Di kamu... 31 Januari 2019

Bangsat

Gambar
Oleh Uwan Urwan Kadang hidup terasa bangsat sekali "Begini amat ya!" Di antara tawa-tawa menyeruak, Babi-babi berbentuk manusia berhamburan Layaknya kupu-kupu temukan serbuk sari Kemudian pergi begitu busuk merajut Pengemis dan pemulung dengan kesasaran penuh, Punguti sampah itu Meski beraroma tahi basah Jadi, yang bedebah itu siapa? Aku? Dia? Kalian? Mereka? Kita semua, BANGSAT! Jakarta, 21 Januari 2019

Hujan

Gambar
Oleh : Urwan Urwan Bumi basah, tanah lembab, dan langit mendung. Melodi yang tangannya mainkan tidak ikut terjerembab ke dalam genangan air. Suaranya mengalun bening menyeruput keindahan seroja. Bintang sore nan merana. Lalu ia berbunyi biola seperti pasir yang dibawa terbang angin. Lalu berhamburan ikut satu per satu ke dalam alunannya. Bertaburan bak bintang malam. Langit emas hampir tiada sementara beberapa lapis udara di atas kepala mulai gelap. seiring dengan berkumpulnya gemuruh petir dan zona air mata. Pyar... Petir mengilat dan byurrr. Bumiku berembun hampir banjir. Tak tik tuk.... Dentang jam dinding membelok ke arah riuhnya tetes-tetes air yang jatuh ke atap seng, dedaunan, dan tanah. Debu-debu yang lembut dibawa ke hilir sebagai persembahan kepada dewa laut. Sementara aku, hanya bisa memandangi malam yang nyaris tiba.

Yang Kemarin Kudekap

Gambar
Oleh Uwan Urwan Malam ini kutinggalkan langit Debur berombak kenangan berangin bisik bersenang-senang Sekeliling tampak penuh bintang warna warni Tetapi tidak jiwaku Terasa garam gulita penuh basah Entah rasa yang mati atau mati yang bernyawa Kutepuk tepuk senja yang sudah lama pergi untuk datang kembali Duduk berdua menikmati linu yang sejak pagi tertawa Berkisah tentang kamu Yang kemarin kudekap Seolah tak ingin lepas Tapi kini bukan kamu yang ada Hanya rindu yang setia Mengelabuhi setiap perjalananku

Daun-daun Itu Membentuk Pucuk

Gambar
Oleh : Uwan Urwan Daun-daun itu membuka dan kuncup seperti sebuah perjalanan kaki. Perjalanan yang membawa luka dan duka di atas suka dan riang. Udara-udara mulai menusuk ke dalam pori-pori. Membawa butir-butir es sampai warnanya menguning. Kipas angin berputar-putar kelaparan. Dinding-dinding kamar tak pernah berubah warna. Dari balik jendela dedaunan tertiup angin, membawanya tersenyum, tertawa, mengalun. Daun-daun itu seperti rindu, bersemayam, kemudian elok begitu sebuah pintu terbuka dan terkembang dalam satu waktu. Tebarkan aroma napas dan lirih. Sementara itu langit senja yang terus saja banggakan keelokannya. Daun-daun itu terus membentuk pucuk, sementara hatiku tersebutkan gelakmu. # uwanurwan #puisi #daun