Postingan

Daun-daun Itu Membentuk Pucuk

Gambar
Oleh : Uwan Urwan
Daun-daun itu membuka dan kuncup seperti sebuah perjalanan kaki. Perjalanan yang membawa luka dan duka di atas suka dan riang. Udara-udara mulai menusuk ke dalam pori-pori. Membawa butir-butir es sampai warnanya menguning. Kipas angin berputar-putar kelaparan. Dinding-dinding kamar tak pernah berubah warna. Dari balik jendela dedaunan tertiup angin, membawanya tersenyum, tertawa, mengalun.
Daun-daun itu seperti rindu, bersemayam, kemudian elok begitu sebuah pintu terbuka dan terkembang dalam satu waktu. Tebarkan aroma napas dan lirih. Sementara itu langit senja yang terus saja banggakan keelokannya.
Daun-daun itu terus membentuk pucuk, sementara hatiku tersebutkan gelakmu.
#uwanurwan #puisi #daun

Kedatanganmu seperti sebuah buku dalam lembar-lembar kosong

Gambar
by Uwan Urwan

Kemudian aku sadari sesuatu. Kedatanganmu merupa mimpi, karena harap sudah lama kudamba. Merindu entah siapa, genggam entah bagaimana, bersandar entah di mana. Kedatanganmu seperti bayu yang berembus begitu saja tanpa nada petikan tiga kali. Kemudian muncul kuncup hijau, merekah kemudian embun menghilang dalam hari.

Kalau engkau terobsesi, aku hanyalah bagian dari kesederhanaan itu. Mungkin jadi naif karena kucing-kucing berkejaran minta makan spageti dan rujak cingur bumbu keputusasaan. Aku hanya menatap iba. Di sisi lain kipas angin terus saja berputar lebih dari 24 jam perhitungan waktu manusia.

Kedatanganmu kuyakini adalah kunci meski kita tahu yang salah dan yang bersalah itu bisa mutlak atau 50 banding 50. Namun, perputaran itu nyata ada dan kekuatan itu seperti terik mentari, meski tak tersentuh dapat hangat.

Kedatanganmu itu seperti sebuah buku dalam lembar-lembar kosong dan jemariku tuliskan banyak pesan di sana.

Miau

By Uwan UrwanMiau
Siang-siang lapar
Miau
Malam-malam busung lapar
Miau
Miau
Miau miauMiau
Bulu-bulu putih
Rambut!
Dengan belang hitam
Miau miau
Mata-mata biru
Mata-mata bercahaya
Miau miauMiau, katanyaMiau... Miau...
Buang
Buang miau...
Tinggal miauMau-mau miau...
Miau mau-mau
Mau-mau-mau
Miau...Malang, 14 Mei 2007

Kepada Bosan Dan Malas

By Uwan Urwan
Hei kau kutu kudis dan semacamnya Pantatmu kian bergetar Bola kakimu hendak menghantam mataku Hah, mana bisa! Kau itu hanya yang bisa melompat dari atas tebing dan tetap jatuh di atas bebatuan Sekali pun kau tidak dapat melahap mulutku yang koyak Hei kau kutu yang menyala Kuperingatkan ya, kamu bukan berlian lapis legit Yang manis rasa tembolok Berbiji mutiara dan zamrud Hei hei hei, berhenti kau! Jangan melompat lagi. Kucari kau di sela-sela rindu pada B dan petang yang tetap gelap Blusukan ke sana ke mari Menyelusup bagai ular-ular melilit, membelit, dan melidahi pasangan ketiakku Nah, kena kau. Dasar kutu! "Tes" Suara tubuhnya yang kutimpa dengan kuku pecah Semua isi perutmu, uang ratusan rupiah, dan sperma yang bersemayam ikut membludak Haha.... Kucingku berlari. Kini ia terbebas dari hewan keparat itu. Situbonce, 07082015

Kepada Bantal dan Guling Permai

By Uwan Urwan
Aku tidur, denganmu Semalam kau lumuri aku, dengan basah cinta Aku tidur, dengan jempolmu Kuemut pelan-pelan dan tergesa-gesa Aku bangun, dengan tidur Merayap ke dalamm lobang hidungmu yang bau kayu manis Manis, ujung dada. Aku terlelap, dengan benjolan ketiakmu Dicakar-dicakar bayu dan lembing Sintal tubuh dan pantatnya berlabel koran harian abal-abal Aku bermimpi, dengan pelukanmu yang bertabur sperma dan garam-garam lautan Ah, aku kan sudah terlalu sering menikmati kelamnya dunia persinggahan, Yang keluar masuk, masuk keluar, apa enak? Mataku masih terpejam, dengan ubun-ubun rasa bangkai tahi lalat Sepanjang gelap aku bertepuk, hanya sebelah Menginjak-injak kitab tata cara makan kepiting mentah dan tata cara bercinta dengan lelembut Hmm... aku enggan beranjak dari semua perlengkapan kasur Enggan meninggalkan mimpi yang nikmat Enggan bersetubuh lagi dengan matahati terik Bah... 080815

Ini Aku (Terdiam Dalam Nestapa)

By Uwan Urwan
Ini, aku berkata-kata yang tak tertulis Dimiliki oleh perasaan buta dan hitam Dirasakan oleh hati nurani dalam lambung Ini, katakan saja Ini, puisi. Bukan, ah, iya Ah, bukan-bukan Sama sekali bukab kiasan yang terangkai Hanya coretan-coretan lugas Kalau diceritakan, Puisi itu cerita kerajaan alam liar Yabg bermandikan metafora sinisme Dan segala hal warna-warni pelangi Apabila dibaca, timbullah luka Dan berserakan dada-dada pendengarnya di sekitar dunia Menggema di ujung menara Eifel, Menuju puncak Everest dan berhenti di pusat Masjidil Haram, Seperti putara detik Siapa pun kemudian terhanyut dalam syair-syair yang terungkap Biasa. Biasa. Ini biasa Bukan congkak dan riak Tapi memang tersulut api lembah Dan terjatuh tanpa mahkota intan di atasnya Ini, ini, sampah kecil Ini, ini, mungkin dicatat malaikat siapa saja Sebagai prasasti Ini, dosa besar Ini, biadab Ini, ini, ini..... Aku tak tahu, Bulan Kalau kau tak mengerti Bagaimana aku? Ini, ini hanya suasana Ini, lagi Ini terus dan ini                     I…

Perumpamaan Masa Lalu

By Uwan Urwan

Entah mengapa suara-suara gitar itu membawaku pada perumpamaan masa lalu
hiruk pikuk pikiran kalut membawa satu warna, kelabu menghitam
mataku kembali nanar
kakiku kian lemah
dan segala penyeru Tuhan di ruang dada murtad seketika

aku rubuh di pagi ini menyaksikan bunga-bunga yang tak pernah mekar lagi
yang tak lagi mampu mengeluarkan aroma

Tiba-tiba aku ingin bersenandung di balik kamar mandi berdebu
di tempat itu, tak ada seorang pun yang tahu jika aku sedang membenamkan diri dalam sunyi