Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Kepada Bantal dan Guling Permai

By Uwan Urwan
Aku tidur, denganmu Semalam kau lumuri aku, dengan basah cinta Aku tidur, dengan jempolmu Kuemut pelan-pelan dan tergesa-gesa Aku bangun, dengan tidur Merayap ke dalamm lobang hidungmu yang bau kayu manis Manis, ujung dada. Aku terlelap, dengan benjolan ketiakmu Dicakar-dicakar bayu dan lembing Sintal tubuh dan pantatnya berlabel koran harian abal-abal Aku bermimpi, dengan pelukanmu yang bertabur sperma dan garam-garam lautan Ah, aku kan sudah terlalu sering menikmati kelamnya dunia persinggahan, Yang keluar masuk, masuk keluar, apa enak? Mataku masih terpejam, dengan ubun-ubun rasa bangkai tahi lalat Sepanjang gelap aku bertepuk, hanya sebelah Menginjak-injak kitab tata cara makan kepiting mentah dan tata cara bercinta dengan lelembut Hmm... aku enggan beranjak dari semua perlengkapan kasur Enggan meninggalkan mimpi yang nikmat Enggan bersetubuh lagi dengan matahati terik Bah... 080815

Ini Aku (Terdiam Dalam Nestapa)

By Uwan Urwan
Ini, aku berkata-kata yang tak tertulis Dimiliki oleh perasaan buta dan hitam Dirasakan oleh hati nurani dalam lambung Ini, katakan saja Ini, puisi. Bukan, ah, iya Ah, bukan-bukan Sama sekali bukab kiasan yang terangkai Hanya coretan-coretan lugas Kalau diceritakan, Puisi itu cerita kerajaan alam liar Yabg bermandikan metafora sinisme Dan segala hal warna-warni pelangi Apabila dibaca, timbullah luka Dan berserakan dada-dada pendengarnya di sekitar dunia Menggema di ujung menara Eifel, Menuju puncak Everest dan berhenti di pusat Masjidil Haram, Seperti putara detik Siapa pun kemudian terhanyut dalam syair-syair yang terungkap Biasa. Biasa. Ini biasa Bukan congkak dan riak Tapi memang tersulut api lembah Dan terjatuh tanpa mahkota intan di atasnya Ini, ini, sampah kecil Ini, ini, mungkin dicatat malaikat siapa saja Sebagai prasasti Ini, dosa besar Ini, biadab Ini, ini, ini..... Aku tak tahu, Bulan Kalau kau tak mengerti Bagaimana aku? Ini, ini hanya suasana Ini, lagi Ini terus dan ini                     I…

Perumpamaan Masa Lalu

By Uwan Urwan

Entah mengapa suara-suara gitar itu membawaku pada perumpamaan masa lalu
hiruk pikuk pikiran kalut membawa satu warna, kelabu menghitam
mataku kembali nanar
kakiku kian lemah
dan segala penyeru Tuhan di ruang dada murtad seketika

aku rubuh di pagi ini menyaksikan bunga-bunga yang tak pernah mekar lagi
yang tak lagi mampu mengeluarkan aroma

Tiba-tiba aku ingin bersenandung di balik kamar mandi berdebu
di tempat itu, tak ada seorang pun yang tahu jika aku sedang membenamkan diri dalam sunyi

Tahi

By Uwan Urwan Aku benarbenar zzzzzz
Lagilagi percakapan itu penuh dusta
Bah bih cuihhh
Babi gemulai, cacing kepanasan
Tahi kau rangkul, kau ciumi
Enyah kau bedebah sialan

Pendusta lagilagi datang
Bersiar diri menunjukkan harta molek
Tahi ayam!
Pergi kau!
Pergi keluar dari dalam usus besar
Kau bukan mutiara
Ah, tahi!

B kau pergi

By Uwan Urwan

Malam kelabu. Aku tanya mengapa? Ternyata bulan pergi. Benar-benar pergi. Tak hendak mengelilingi orbitnya kembali. Ia bersama bintang lain. Ia tak lagi di Bima Sakti. Ia punya rumah baru yang lebih nyaman. Punya orbit yang cukup teratur. Sedang aku di sini, hanya tetap berharap... menanti... Meski tahu seberapa sakit pilu resah gelisah dan ngilunya tubuh, impian memandangi rembulan masih melambung.

Aku matahari, rasanya tak ingin lagi bersinar. Ingin membiarkan bumi ikut tenggelam dalam gelap gulita lubang kesengsaraan. Tanpa berjawat dengan sesama, bagaimana tubuhku bisa berkeliling setahun?
Hei, aku memanggilmu. Kau bulan, B, rembulan, benar-benar pergi....
>>>> klik untuk mendownload mp3nya

Panggil Namamu

By Uwan Urwan Cuma ingin berteriak memanggil namamu
Lalu menamparmu
Lalu menelanjangimu
Lalu mencacah tubuhmu
Lalu menguliti bumi
Lalu lalu lalu

Bah, tubuhmu busuk rasa jus kalong
Enyahlah!

Rindu

By Uwan Urwan

Ada kisah yang kemudian tercatat Buku catatan kecil membawa secuil berita untuk digelembungkan sedemikian rupa hingga secantik balon udara Melayang layang Mencari tambatan ujung kasur untuk dipijak
Kisah kisah itu lepas begitu saja Iya, begitu saja saat angin raba raba menerpa ganas Aku hampir mengumpat, tapi tercekat Menjadi hilang Menjadi debu saat terbakar air segalon
Kepalaku kini menyandar pada dinding gelap Leher terkatung katung meminta ujung sperma yang tersisa Sebagian punggung menindih guling dan kenangan kenangan itu Kenangan yang tak berkisah lagi
Kau tahu, aku rindu Ah, rindu pun kini terasa seperti benda asing di dalam hidung
Zzzzz
Depok, 160515, 0058

Catatan Kecil

By Uwan Urwan
Kepada sepotong rindu yang menguras hari. Apalah arti berjalan kaki, jika harus melewati genangan bayang-bayangmu? Matahari masuk ke bumi, lalu semena-mena naik ke atas kepala, sampai akhirnya ia kembali terjerembab di barat. Apa itu tidak membuang hari? 
Sementara aku masih berjibaku dengan senyummu. Aku tak pernah benar-benar tersiram tenang selain melihatmu menaburkan senyum itu. Tertawa meski kadang hanya bercanda dengan angin. Dan matamu yang sayu itu seolah memberi kekuatan baru untuk terbang bersama awan. 
Kamu di mana rindu? Pagi-pagi ini aku sudah mencarimu di berbagai sudut. Sementara pagi ini banyak yang menyerumu. Banyak yang memanggil rindu, menanyakan rindu, menceritakan rindu, dan menolak mengabaikan rindu. 
Sepotong rindu yang menyiksa. Membuat aku toreh kisah lagi. Tentang bagaimana hari-hariku sepi tanpamu...

Sepi

By Uwan Urwan
Entah mengapa suara-suara gitar itu membawaku pada perumpamaan masa lalu hiruk pikuk pikiran kalut membawa satu warna, kelabu menghitam mataku kembali nanar kakiku kian lemah dan segala penyeru Tuhan di ruang dada murtad seketika aku rubuh di pagi ini menyaksikan bunga-bunga yang tak pernah mekar lagi yang tak lagi mampu mengeluarkan aroma Tiba-tiba aku ingin bersenandung di balik kamar mandi berdebu di tempat itu, tak ada seorang pun yang tahu jika aku sedang membenamkan diri dalam sunyi
15 Agustus 2014

Menyapa Bulan

By Uwan Urwan

Hi Bulan, sudah lama aku tak menyapa Hidungmu serap wangi Mengisahkan bahasa dan cahaya yang baru saja terkapar Aku ingat saat lenganmu melingkar di punggung Tak pernah kuizinkan jari-jari lain sentuh telinga, ketiak, rambut, hingga sela-sela rongga bulu mata Cuma kamu, sampai akhirnya langkahku terhenti Berbalik meninggalkan bijih besi panas, kutu kelamin, gunung muntah, dan lubang persendian Kini aku telanjang Membiarkan lalat, ular sanca, kambing betina, belalang binal, dan segerombolan gagak kepala botak mencicipi setiap tetes keringat yang mencuat Hi Bulan, kamu terangkai sendiri Menepi dalam sepi Situbondo, 181016

Asam

By Uwan Urwan

Ada sebongkah ketiak yang menghujam hidung Rasanya kecut-kecut basah Seperti makan rujak dengan bumbu cuka seluruhnya Iya, tapi mesti dilahap semua Telan dengan baik agar lambung bisa mengucapkan salam dengan baik Kamu tahu? Kadang hidup semasam itu Gigi kuda-kudamu yang menyempit Bisa saja mengunyah lehermu pelan-pelan Bukankah mereka hanya makan rumput? Kau tahu apa tentang hidup? Kau hanya makan roti panggang saban pagi tidur di atas perut buaya jika malam Dan, hah, susu basi kau sumpal dalam kerongkongan kucing Kembali pada ketiak Bagaimana ketiakmu? Sudahkah tumbuh pizza? Kalau iya, aku sangat lapar ingin membelahnya Situbondo, 141015