Postingan

Menampilkan postingan dengan label rindu

Kepalaku pusing (Sebuah Puisi)

Gambar
Bola mataku nampaknya jadi sembilan Kemudian tumbuh jadi dua masing-masing dan aku melihat mereka makin membelah diri bagai komunis yang tidak menjadi ajaran dasar kehidupanku. Bola mataku menguning sebelum berperang dengan aus kayar-layar hape canggih Katanya canggih, tapi aku justru makin bodoh Hahaha Tak sadarkan kalau kita sudah dibutakan hawa nafsu dan pancaran cahaya yang melintang tiga Aduh... Kepalaku pusing

Di kamu

Gambar
Oleh Uwan Urwan Rindu seperti air sungai Mengalir tanpa penghalang Dari daerah tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah Titik terendah itu ada di kamu Meski perjalanannya sesederhana itu Ada banyak hambatan, bebatuan cadas, tanah keras, sampai terik berlebih Kadang ia tak hadir tepat waktu Menyisakan ruang kosong di antaranya Namun, jatuhnya akan tetap sama Di kamu... 31 Januari 2019

Yang Kemarin Kudekap

Gambar
Oleh Uwan Urwan Malam ini kutinggalkan langit Debur berombak kenangan berangin bisik bersenang-senang Sekeliling tampak penuh bintang warna warni Tetapi tidak jiwaku Terasa garam gulita penuh basah Entah rasa yang mati atau mati yang bernyawa Kutepuk tepuk senja yang sudah lama pergi untuk datang kembali Duduk berdua menikmati linu yang sejak pagi tertawa Berkisah tentang kamu Yang kemarin kudekap Seolah tak ingin lepas Tapi kini bukan kamu yang ada Hanya rindu yang setia Mengelabuhi setiap perjalananku

Daun-daun Itu Membentuk Pucuk

Gambar
Oleh : Uwan Urwan Daun-daun itu membuka dan kuncup seperti sebuah perjalanan kaki. Perjalanan yang membawa luka dan duka di atas suka dan riang. Udara-udara mulai menusuk ke dalam pori-pori. Membawa butir-butir es sampai warnanya menguning. Kipas angin berputar-putar kelaparan. Dinding-dinding kamar tak pernah berubah warna. Dari balik jendela dedaunan tertiup angin, membawanya tersenyum, tertawa, mengalun. Daun-daun itu seperti rindu, bersemayam, kemudian elok begitu sebuah pintu terbuka dan terkembang dalam satu waktu. Tebarkan aroma napas dan lirih. Sementara itu langit senja yang terus saja banggakan keelokannya. Daun-daun itu terus membentuk pucuk, sementara hatiku tersebutkan gelakmu. # uwanurwan #puisi #daun

Perumpamaan Masa Lalu

By Uwan Urwan   Entah mengapa suara-suara gitar itu membawaku pada perumpamaan masa lalu hiruk pikuk pikiran kalut membawa satu warna, kelabu menghitam mataku kembali nanar kakiku kian lemah dan segala penyeru Tuhan di ruang dada murtad seketika aku rubuh di pagi ini menyaksikan bunga-bunga yang tak pernah mekar lagi yang tak lagi mampu mengeluarkan aroma Tiba-tiba aku ingin bersenandung di balik kamar mandi berdebu di tempat itu, tak ada seorang pun yang tahu jika aku sedang membenamkan diri dalam sunyi

Panggil Namamu

By Uwan Urwan Cuma ingin berteriak memanggil namamu Lalu menamparmu Lalu menelanjangimu Lalu mencacah tubuhmu Lalu menguliti bumi Lalu lalu lalu Bah, tubuhmu busuk rasa jus kalong Enyahlah!

Rindu

By Uwan Urwan Ada kisah yang kemudian tercatat Buku catatan kecil membawa secuil berita untuk digelembungkan sedemikian rupa hingga secantik balon udara Melayang layang Mencari tambatan ujung kasur untuk dipijak Kisah kisah itu lepas begitu saja Iya, begitu saja saat angin raba raba menerpa ganas Aku hampir mengumpat, tapi tercekat Menjadi hilang Menjadi debu saat terbakar air segalon Kepalaku kini menyandar pada dinding gelap Leher terkatung katung meminta ujung sperma yang tersisa Sebagian punggung menindih guling dan kenangan kenangan itu Kenangan yang tak berkisah lagi Kau tahu, aku rindu Ah, rindu pun kini terasa seperti benda asing di dalam hidung Zzzzz Depok, 160515, 0058